Kamis, 03 Januari 2013

Mereka Sebut "Surga"


Kehidupan yang sama setiap harinya, rutinitas yang membosankan, Aku ingin sesuatu yang beda. Sesuatu yang membuatku dapat merasakannya, senang, sedih, takut, Aku lupa rasanya itu. Aku ingin pergi ke suatu tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya, melihat, mendengar, merasakan, menyentuh.. dan ini akhir tahun, tepat rasanya mencari dan menemukan sesuatu yang baru. Entah apa itu, entah apa yang aku cari, aku hanya mencoba berjalan dan merasakan, dan Tuhan telah mengatur skenarionnya, Dia tidak mengizinkan aku untuk pergi sendiri, Dia mengirim 2 orang untuk menemaniku, salah satunya seseorang yang sayang padaku. Seseorang yang jauh... Tiba-tiba mendekat dan ada menemaniku.

Kami akan ke sebuah Pulau yang mereka sebut "Hidden Paradise". Pulau sempu, sebuah pulau kawasan cagar alam yang dilindungi pemerintah terletak di desa Sumber Agung, Kecamatan Sumbermanjing Malang. Dari Jakarta kami naik kereta Majapahit dengan harga Rp. 280rb/org dan turun di St. Kota Baru Malang. Sampai sana kami naik angkutan umum jurusan Gadang dengan tarif Rp. 3000,-/org. Sampai Gadang, kami naik Bison, angkutan umum yang mirip dengan Elf tujuan Pasar Turen tarifnya Rp. 4000,-/org. Sampai Pasar Turen kami membeli logistik untuk kebutuhan camp di Pulau Sempu nanti. Disana banyak toko yang berjualan, Indomart juga ada. Setelah logistik terbeli, kami naik angkutan umum warna biru tujuan Sendang Biru, disinilah kesabaran mulai diuji, karna supirnya tidak mau berangkat kalau penumpangnya belum penuh semua. Perjalanannya cukup lama, dan akhirnya kami turun di depan pos Perhutani. Untuk angkutan umum Turen-Sendang Biru Rp. 15rb/org. Masyarakat disini sudah tidak lugu seperti di Bromo, mereka sudah kenal uang. Sampai Sendang Biru kami harus meminta izin dahulu ke Perhutani, saat itu sedikit ketat karna ada orang hilang di Sempu dan baru saja ditemukan setelah hilang 4 hari. Jadi mereka kurang ramah pada kami.

Setelah kami mengurus perizinan Rp. 20rb,- dan membayar guide Rp. 100rb, kamipun harus membayar kapal untuk menyebrang Rp. 100rb,-. Karna saat itu yang berangkat hanya kami, jadi tidak bisa join kapal. Padahal kami hanya menyebrang 10 menit dan jaraknya dekat. Setelah itu kami bersiap untuk tracking ke Segara Anakan. Waktu itu cuaca tidak bersahabat, hujan dan jalannya berlumpur, track yang seharusnya bisa di lewati 1 jam kami lewati dengan waktu 2 jam. Karna kurang prepare, dan tas kamera tidak ada cover bagnya, alhasil basah dan kena lumpur. Jadi, sebaiknya kalau ke sempu musim hujan, semua barang elektronik di masukkan kedalam plastik. 

Jalur track------->


Setelah 2 jam kita tracking, dari kejauhan kami melihat air hijau yang sangat indah.. Akirnyaa.. Segara Anakan... I'm Comming... dengan nafas-nafas sisa kami menuruni jalan berlumpur dan langsung berlari kedalam air.

Segara Anakan--->


Sayang sekali saat itu musim liburan, jadi pulau sedikit ramai, dan saya tidak merasakan "Privasi" yang ingin saya cari. Kedamaian.. Kesepian... belum saya dapat disana.

Esok hari, kamipun menikmati keindahan Segara Anakan. Tapi sayang, pulau cantik ini sudah ternoda oleh tangan-tangan jahil yang mengaku dirinya Pecinta Alam. Mereka yang mengaku Pecinta Alam, dengan asiknya membuang sampah plastik, sampah bekas makan, bahkan ada yang mencuci piring dengan sunlight disini. Kalian yang mengaku Sang Pecinta Alam.. Tidak malukah kalian pada alam?

Pulau ini cantik, tapi saat kami kesana, dia masih malu-malu menampakkan kecantikannya, mungkin dia marah, kesal, karna tidak terjaga, banyak yang tidak menghargainya, manusia manusia yang tidak perduli kecantikanmu. Pulau yang dahulu mereka sebut surga, surga yang tersembunyi... Aku mau itu kembali..
3 hari 2 malam.. aku belajar sesuatu.. banyak hal yang membuatku selalu bertanya-tanya... Apa yang aku cari ?  

0 komentar:

Posting Komentar