Ada yang pernah mendengar kata Broker? ya... Broker adalah sebuah profesi, sebutan untuk seorang perantara yang sering digunakan dalam pasar modal. Biasanya, kerjaan mereka secara umum mempertemukan penjual dan pembeli. Biasanya, penghasilan seorang broker tidak pasti, tidak seperti pegawai kantoran lain yang setiap bulannya mendapatkan gaji pokok, uang makan, transport, bahkan lemburan, seorang broker mendapatkan uang pemasukan setiap mereka mempunyai buyer(nasabah) atau orang yang berinvestasi pada perusahaan mereka. Disini saya akan bercerita sedikit pengalaman saya menjadi seorang broker, tepatnya broker perusahaan berjangka, yang lebih dikenal masyarakat umum sebagai perusahaan investasi.
Awalnya, saya sudah banyak mendengar berbagai macam kisah para broker-broker yang mengeluh atas pengalaman mereka. Saya juga sering melihat banyak kasus antara para broker dan nasabah yang rugi karna faktor kelalaian para broker ataupun kelalaian nasabah itu sendiri yang keras kepala. Sebelum saya terjun langsung dalam profesi broker, saya hanya sebatas menggambarkan apa yang saya dengar saja. ya... seperti kebanyakan orang, hanya menjudge apa yang telah dia dengar dari orang lain, padahal mereka belum merasakannya sendiri. Bagaimana saya tau profesi broker kalau saya belum mencobanya? Muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai profesi mereka di otak saya. Bagaimana bisa mereka mendapatkan komisi sebanyak itu ya? bukan jutaan lagi, tapi ratusan juta satu bulan.
Dengan pikiran positif saya melangkah ke dunia ini, dunia orang-orang yang tujuan utama mereka adalah "UANG" semua untuk uang, mendapatkan uang, uang yang banyak. Karna saya tidak mau terlalu obses, saya coba santai mengikuti training disebuah perusahaan berjangka untuk mencari fakta. Cape-cape ikut training cuma cari fakta? hehe... Seperti yang saya bilang tadi, saya ga mau terlalu obses dengan semua yang saya dengar disini tentang pendapatan yang ratusan juta. Karna saya tau gimana diri saya, makanya saya kesini mencari fakta dan sekalian belajar mengenai perkembangan diri. Saya ingin tau bagaimana rasanya jadi mereka. Seorang broker...
Belum lama saya ikut training, saya sudah diajak senior saya untuk mobile bertemu calon buyer kami. Satu hari kami 3 sampai 4 kali bertemu orang yang berbeda hanya untuk presentasi. Presentasi kami ga selalu berhasil, banyak calon buyer yang menolak secara halus, bahkan ada beberapa calon buyer yang sudah janji bertemu kami tetapi sampai kami ketempatnya dia tidak mau bertemu dengan alasan sibuk atau meeting. Hmm... kalau sudah begini, seorang broker harus lapang dada dan sabar. Disini saya banyak belajar mengenai kesabaran, keikhlasan dan lapang dada.
Bukan hanya itu, seorang broker junior harus rela "tidak dibayar" selama mereka belum mendapatkan buyer. Lalu bagaimana dengan broker-broker yang belum mendapatkan buyer berbulan-bulan? broker-broker yang tidak punya uang dan tujuan mereka kerja memang mencari uang? Bagaimana nasib mereka?
Saya sering bertanya pada senior saya, dia seorang broker senior, knp dia mau tidak dibayar sebelum mendapatkan buyer padahal hitungannya dia bekerja? saya juga sering bertanya pada broker-broker junior seangkatan saya, apa motivasi mereka? dan rata-rata mereka mempunyai motivasi yang sama, yaitu "Hidup Bahagia dan ingin Menyenangkan Orang yg mereka sayang". Hidup bahagia? miris sekali saat bahagia diukur dengan segala materi yang mereka peroleh.
Dunia broker sepahit kopi hitam... banyak topeng dan sikut menyikut antar sesama profesi demi mendapatkan mesin atm mereka "buyer" yang akan mengisi penuh dompet. satu hal yang saya pelajari disini, orang terdekatmu adalah musuhmu.. itu berlaku dalam dunia broker. Jangan percaya dengan orang lain yang baru kamu kenal, dan jangan sekali-kali mengshare datamu ke orang lain, karna "Data" disini adalah sumber uang. Dalam dunia broker "Data" lebih penting daripada handphone bahkan laptop.
Kalau menurut saya, setiap profesi pasti ada sisi positif dan negatifnya. Tergantung bagaimana cara pandang kita mengenai hal itu. Ya.. kalau saya bilang sih dunia broker itu pahit, bukan hanya dari mental tapi rasa tanggung jawab ketika kita sudah mendapatkan "buyer". Kalau saya memilih untuk berhenti menjadi broker karna ternyata hati saya tidak pada profesi itu. Kalau masih ada yang manis di luar sana, kenapa pilih yang pahit?
EVERYDAY MUST BE CLOSING
*moto mereka
EVERYDAY MUST BE CLOSING
*moto mereka


2 komentar:
saya juga sempat training di salah satu perusahaan berjangka,, dan saya lihat memang pahit kerrjanya,, tapi jika mampu bertahan dan sukses, alhasil wow...... banyak uang :D
yup.. benar sekali.. mereka orang2 yg sabar menunggu :)
Posting Komentar